Pagi yang masih terasa bertaburnya butiran cahaya
gelap yang menyelimuti pelosok lorong hunian yang amat tentram dan damai dari kebisingan
hirup piruk kehidupan para predator dunia yang setiap saat membisingkan telinga
para sang penghayal abadi yang tak ingin menorehkan tinta kehidupannya di kanca
keabadian sementara. Para sang penjelajah waktu mulai menampakkan
keperkasaannya menyelusuri lorong hunian yang bertabur butiran cahaya gelap
yang seolah menjadikan dirinya menjadi terang demi waktu, mengawal si predator
nabati untuk memangsa para gulma-gulma yang dijadikan santapan istimewa di
kehidupan abadi sementaranya yang setiap saat di lakukannya, gemerciknya air sungai
di tambah kicauan burung nan indah melengkapi kehidupan pagi bocah sang
pengembala
Bocah sang pengembala yang bermimpi menjadi penguasa
di negri copyan surga ini, telah terlatih akan kerasnya bantingan batin yang
tiap hari dilaluinya bagaikan santapan paksaan yang tiap hari dikunyah oleh
kesabaran hati dan disinggkirkan oleh kepolosan jiwa. Petualangan Bocah Sang
Pengembala yang terkesan apatis dan individualis bersama sang predator nabatinya menyususri tiang tiang penyangga Bola
Kehidupan yang tak lekan waktu lagi akan punah oleh ganasnya sang predator
dunia yang setiap saat memangsanya, Bocah sang pengembala yang setiap saat
memberikan warna bagi setiap kehidupan yang di laluinya bersama dengan
kepolosan jiwanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar